Gorengan Berbuah Umrah

Posted on Updated on

Teringat sejenak nasehat khatib ketika hari raya kemaren. kisah tentang kebaikan yang berbalas kebaikan. Ada uraian hikmah terselubung di sini bahwa, jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun itu. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan budi. 

Jika kau berbuat kebaikan, maka kebaikan kembali yang akan kau tuai di kemudian hari. Terkisah seorang anak yatim yang fakir dan penjual gorengan. Seorang anak miskin yang tidak memiliki orang tua. Dia hidup dalam kesempitan dan kehempitan. Bahkan untuk sekedar bertahan hidup, ia harus mengemis kasih kepada penjual gorangan.

Pak penjual gorangan, boleh kah, sy mengambil gorengan hanya untuk sekedar makan hari ini ujar si yatim. penjual gorengan berkata “silahkan ambil saja, tidak usah di bayar” Kejadian ini berlanjut selama tiga hari. Di dalam lubuk hati terdalamnya si yatim bertekad untuk membalas segala kebaikan si penjual gorengan yang telah berhati baik ini kelak.

Seiring berjalannya waktu, roda nasib juga berubah. Si yatim yang dulu miskin papa, berubah menjadi seorang eksekutif muda yang sukses. Kehidupan pahit telah menempanya menjadi pribadi yg se tegar batu karang. Terbisit janji yang telah di patri untuk membalas budi baik penjual gorengan yang dahulu telah banyak membantunya.

Di carinya dengan penuh kesabaran si penjual gorangan. Takdir kembali mempertemukan mereka dengan situasi yang berbeda. Akhirnya, pertemuan mereka pun terjadi. Datang seorang pemuda perlente menghampiri penjual gorengan yang masih berkutat dengan dagangannya.

Sejurus kemudian, pemuda itu memberikan kabar bahwa penjual gorengan akan segera brangkat umrah. Segala keperluan penunjangnya akan di urus pemuda tersebut kemudian. Kaget bukan kepalang si penjual gorengan. Bagai petir di siang bolong. Kabar baik datang tetiba dari orang yang tidak di kenalnya. Siapa kah, anda wahai pemuda yang baik hatinya tanya si penjual gorengan.

Pemuda tersebut memperkenalkan dirinya, “sy yang dahulu menikmati gorengan yang bapak berikan secara cuma- cuma” ujar si yatim. Teringat lah penjual gorengan dengan potongan kisah yang hampir di lupakannya.

Kebaikan kecil yang dia tabur bersemi di hati seorang anak yang di kemudian hari menjadi seorang eksekutif muda yang berhasil. Semailah kebaikan, tebarlah benih – benih kebaikan, suatu saat ia akan bertumbuh, berlipat lipat dan akan kita rasakan hasilnya kelak di kemudian hari.

ThE Iof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s