Belajar Dari Tukang Bubur

Posted on

Minggu pagi kemaren kami  sekeluarga jalan bareng untuk sekedar menikmati djajanan pagi. Target kuliner pagi yang biasa di tuju adalah tukang bubur. Hampir tidak ada yang istimewa dengan bubur, dan kita bisa menjumpai penjualnya di banyak tempat. Bosan dengan tempat yang sama. Kami sekeluarga mencoba untuk mencari tempat yang lain, tetapi dengan tujuan yang sama yaitu tukang bubur.

Cara mendeteksi jajanan baru kami adalah jumlah banyaknya pengungjung. Jika banyak pengungunjung yang mengantri di tempat tersebut banyak. Maka bisa di pastikan ada sesuatu spesial yang di jual. Nah, kendaraan kami berhenti pada kerumunan di tempat jual bubur samping sungai di pasar lama tangerang.

Tempat duduk yang tersedia, hampir tidak bisa memenuhi gejolak antusias para pengunjung yang ingin mencicipinya. Bahkan, kami harus rela mengantri agar bisa menikmati  bubut ayam tersebut.

Akhirnya, bubur ayam tersebut di hidangkan. teksturnya lembut, tetapi tidak begitu spesial. Namun ada yang berbeda. cara penyajian variable tambahan pada bubur ayam tersebut yang membuat kami sekeluarga merasa puas.

Penyajian pelangkap bubur seperti kacang, daun bawang, sate, sambel, kecap, dan lada di taruh di atas meja hidangan. Sehingga membuat para pelanggan bisa mengambilnya sesuai dengna selera masing – masing.

Cara penyajian tersebut yang membuat kami sekeluarga merasa puas dan ingin mengunjungi tempat tersebut lagi dalam waktu dekat ini.

 

The IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s