Hikmah Hijrah

Posted on Updated on

Ikhwah sekalian, kita baru saja memasuki awal tahun baru hijriyah. Perubahan angka yang memang terjadi di tiap tahun. Namun, apakah kita sudah memaknainya secara mendalam ? Kata-kata Hijriyah,diambil dari kata hijrah, yakni peristiwa pindahnya (hijrahnya) Rasululloh SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa hijrah adalah peristiwa besar yang kemudian di tetapkan oleh amirul mukminin saat itu (umar bin khattab) menjadi acuan penetapan awal tahun dalam kalender islam(hijriyah).

Padahal banyak peristiwa besar lain yang terjadi, seperti tahun kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tahun beiau wafat dan tahun ketika di utus sebagai rasul. Akan tetapi, Abu Zinad mengatakan “Umar bermusyawarah dalam menentukan tahun untuk kalender Islam. Mereka sepakat mengacu pada peristiwa hijrah (Mahdzus Shawab, 1:317, dinukil dari Fashlul Khithab fi Sirati Ibnul Khatthab,  Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi, 1:150)”

Ikhwah sekalian, hijrah memang peristiwa besar. Di sana mengandung makna tawakal yang begitu mendalam. Bahkan hadits berkaitan dengan niat yang selalu di tempatkan oleh para imam (bukhari, nawawi, muslim, dll) menjadi muqadimah dalam kitabnya, bercerita mengenai niat hijrahnya seorang sahabat yang bernama Muhajir Ummu Qais. Hijrah memang peristiwa besar. Di sini kita belajar untuk bertawakal secara totalitas. Beriman secara bulat. Tidak ada peluang untuk menyisakan sedikit rongga- rongga yang menganga pada aqidah.

Berbagi cerita hikmah tersaji dalam hijrah : ada sahabat yang harus meninggalkan semua perniagaan (bisnisnya), ada sahabat yang meninggalkan pekerjannya, ada sahabat yang meninggalkan keluarga yang di kasihinya dan banyak kisah-kisah lainnya. Semua atribut dunia di tinggalkan. Berpindah ke suatu daerah yang masih terasa asing dan tanpa bekal apapun, tidaklah mudah. Bisa di katakan, Ini sama saja memulai kehidupan yang baru.

Belum lagi, perjalanan melewati padang pasir nan tandus, serta jarak mekah dan yastrib yang harus di tempuh dengan jalur darat(berjalan kaki). Sahabat saya yang Allah Ta’ala pernah ijinkan untuk berziarah ke tanah suci, bercerita “jarak antara mekah dan madinah itu, kira – kira dari jakarta ke surabaya”. Subhanallah, kebayangkan perjuangannya ? Ketika dahulu para sahabat ra harus berjalan tanpa bekal yang memadai di tengah padang pasir nan tandus.

Jikalau mereka(para sahabat ra) hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, sulit rasanya melewati ujian ini. Oleh sebabnya, pasti ada tambahan kekuatan lainnya, yakni kekuatan iman yang melekat dalam dada mereka. Kekuatan hakiki yang berhasil menggerakan fisik , membangun jiwa, dan menentrankam hati mereka. Keyakinan yang bulat bahwa perintah Allah Ta’ala dan Rasulnya pasti akan membawa keberkahan menjadi dasar mereka berhijrah. Samina wa atho’na. Kami dengar dan kami taat. Begitulah karakter para sahabat ra.

Perintah Hijrah adalah upaya preventif yang di lakukan tuk menghindari pengkerdilan dakwah islam yang di lakukan secara massif oleh kaum kafir quraish. Bagi para sahabat ra, melindungi manisnya iman yang melewat dalam jiwa, lebih penting daripada harta duniawi yang di miliki. Para sahabat ra memang generasi terbaik umat ini. Bercermin diri dengan mehidupan mereka, sungguh membuat diri kita merasa malu. Iya, merasa malu akan amal dan ilmu kita yang masih jauh dari cukup, jika di bandingkan dengan mereka.

Berdoalah, semoga Allah Ta’ala ijinkan kita berkumpul di surgaNya dengan Rasulullah saw dan para sahabatnya yang merupakan generasi terbaik umat ini.

ThE IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s