Mendefinisikan Rezeki

Posted on Updated on

Bismillah, Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ala rosulillah. Saudara – saudara yang berbahagia. Pemahaman yang baik akan rezeki, akan menghantarkan kita dalam menjemputnya dengan cara yang baik pula. Redaksi kata menjemput digunakan, untuk menggambarkan sesuatu hal yang sudah ada.

Jadi, dalam konteks rezeki, kita tidak menggunakan redaksi kata mencari. Seorang ulama tabi’in yang bernama Al hasan bin yasar atau biasa di kenal Hasan Al Bashir mengatakan “Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang “. Perkataan tersebut bisa di pahami bahwa rezeki masing – masing dari kita sudah ada ketentuan dan plotnya.

Allah berfirman, “Dan tidak ada makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya di jamin Allah rezekinya….”. (QS Hûd [11]: 6).

Jika saja mau meluangkan sedikit waktu untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, maka kita bisa menangkap hikmah tersembunyi yang bertebaran di antaranya. Perhatikanlah cicak  di dinding rumah kita. Lihat lah cara ia menjemput rezekinya. Walapun tidak punya sayap untuk menangkap nyamuk, Allah Ta’ala tetap cukupkan rezekinya.

Meluruskan pemahaman tentang rezeki amat lah penting bagi kita. Saudara – saudara sekalian. Fenomena menghebohkan yang terjadi belakangan ini, menunjukan kurang utuhnya pemahaman tentang konsep rezeki. Contohnya : kita sering mendengar kisah saling menjatuhkan dan sikut menyikut antar rekan sekantor, hanya karena ingin merebut hati atasan dan mendapat promosi jabatan.

Atau, yang baru – baru ini terjadi, perkelahian antara ojek pangkalan dan ojek online. Salah satu pihak yaitu ojek pangkalan merasa rezeki(penumpangnya) di rebut oleh pihak lainnya yang dalam hal ini ojek online. Padahal, bagaimana mungkin kita bisa merebut sesuatu yang sudah di tentukan oleh yang maha pemberi rezeki ?

Bekerja dalam menjemput rezeki merupakan sarana kita beribadah kepadaNya. Semakin keras dan tekun kita bekerja, maka semakin baik pula amal sholeh kita. Atau bisa juga di katakan, ada korelasi positif antara ketekunan dan kerja keras dengan pertumbuhan amal sholeh kita. Tetapi hal yang sama tidak berlaku pada kuantitas rezeki, karena tidak ada korelasi linear antara kerja keras dan kuantitas rezeki.

Nah, ini point penting dalam memahami konsep rezeki. Layaknya sholat, semakin khusyu, maka semakin baik pula nilai ibadahnya. Karena kita tidak bisa mendulang kuantitas dari rezeki menggunakan parameter akal dan otot. Jikalau rezeki menggunakan logika otot. Barang siapa yang bekerja sangat keras, keringat bercucuran sampai otot – otot  terasa pegal, maka dia akan bergelimpahan rezeki.

Tetapi, apakah benar seperti itu ? realitanya tidak. Perhatikan para buruh bangunan gedung bertingkat yang bekerja di bawah sinar mentari yang terik. Begitu pula dengan logika akal. Jika rezeki menggunakan logika akal, maka seharusnya para prof menjadi orang – orang yang paling bergelimpahan rezeki. realitanya, tidak juga. Jadi, kerja keras dan kecerdasan akal bukanlah faktor utama pendulang keberlimpahan rezeki.

keutamaan dari rezeki adalah berkahnya, bukan kuantitas atau keberlimpahannya. Masalah kuantitas dan keberlimpahan bukanlah domain kita. Karena masing – masing dari kita sudah mempunyai ketentuan takaran yang sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuz. itu sebabnya, dalam menjemput rezeki, kita harus berfokus pada keberkahan, bukan pada kuantitasnya.

Kenaikan pangkat atau pekerjaan baru mungkin bisa menambah rezeki secara kuantitas, tetapi belum tentu dalam urusan berkahnya. Apabila kenaikan pangkat atau pekerjaan baru justru membuat kian jauh dengan Allah ta’ala, dan intensitas ibadah kita berkurang. Nah, boleh jadi keberkahan itu hilang, walaupun secara kuantitas rezeki bertambah.

Lantas, untuk apa ? Manisnya iman yang bertabur dalam dada adalah puncak kenikmatan dari rezeki yang kita rasakan. Akan tetapi, mungkin kita terlalu sering berfokus kepada sesuatu yang bersifat fisik, sehingga sering kali melupakan nikmat yang berharga yang tak kasat mata ini. Padahal, justru keberkahan rezeki berada pada kenikmatan iman yang berlabuh pada dada kita.

Jadikan lah, keberkahan menjadi parameter utama kita dalam menjemput rezeki. Parameternya sederhana. Jika aktifitas  dalam menjemput rezeki membuat kita menjadi pribadi yang senantiasa bersyukur, kuantitas ibadah meningkat dan rasa iman bertaburan dalam jiwa. Insya Allah keberkahan hadir dalam ikhtiar kita menjemput rezeki.

Saudara saudara sekalian, semoga pemahaman yang benar akan konsep rezeki, akan menghantarkan keberkahan di tiap langkah ikhtiar kita dalam menjemputnya.

Silahkan renungkan, apakah keberkahan sudah hadir dalam ikhtiar kita menjemput rezeki saat ini ?

ThE IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s