Mengukur Dauroh Dengan Model KirkPatrick

Posted on Updated on

Dauroh mutlak di perlukan sebagai sarana peningkatan kapasitas. Menyiapkan dauroh tidak bisa di lakukan secara instan. Perlu pemikiran yang mendalam dan curahan tetes keringat. Dauroh adalah ladang – ladang amal jariyah. Pekerjaan ini, bisa membuat usia amal sholeh kita, lebih panjang dari usia biologis. Dauroh bukan sekedar menyampaikan materi. Ada transfusi ruhiyah, ada pelurusan pemahaman, dan ada ketulusan atas dasar cinta karena Allah ta’ala.

Oleh sebab itu, kita harus serius menggarapnya. Kita perlu mengukur jangkauannya. Apakah sudah sesuai target ? Apakah sudah sesuai dengan tujuannya ? Apakah kelak outputnya sesuai dengan ekspektasi ? Perlu ada ruang evaluasi di sini, dan ruang evaluasi harus berlaku untuk peserta dan penyelenggara. Kita harus berani membuka selebar – lebarnya ruang itu. Karena bagi pejuang yang berorientasi kan langit, kritik dan pujian tidaklah ada bedanya.

Dalam hal ini, kita menggunakan Model KirkPatrick sebagai pengukur kepuasaan dauroh. Model Kirkpatrickmerupakan model evaluasi pelatihan yang memiliki kelebihan karena sifatnya yang menyeluruh, sederhana, dan dapat diterapkan dalam berbagai situasi pelatihan. Menyeluruh dalam artian model evaluasi ini mampu menjangkau semua sisi dari suatu
program pelatihan.

Dalam Model KirkPatrick, evaluasi di lakukan dalam empat level :

Level 1 (Reaksi)
Evaluasi di level 1 bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan peserta pelatihan terhadap
penyelenggaraan pelatihan. Kualitas proses atau pelaksanaan suatu pelatihan dapat diukur
melalui tingkat kepuasan pesertanya. Kepuasanpeserta terhadap penyelenggaraan atau
proses suatu pelatihan akan berimplikasi langsung terhadap motivasi dan semangat belajar
peserta dalam pelaksanaan pelatihan

Level 2 (Belajar)
Evaluasi di level 2 bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap materi
training atau sejauh mana daya serap peserta program pelatihan pada materi pelatihan
yang telah diberikan

Level 3 (Aplikasi)
Evaluasi di level 3 bertujuan untuk mengukur perubahan perilaku peserta pelatihan
setelah mereka kembali ke dalam lingkungannya. Perilaku yang dimaksud di sini
adalah perilaku kerja yang ada hubungannya langsung dengan materi yang disampaikan
pada saat pelatihan

Level 4 (Dampak)
Evaluasi di level 4 bertujuan untuk mengetahui dampak perubahan perilaku peserta
pelatihan terhadap tingkat produktifitas membina

Karena keterbetasan waktu, dalam sekolah mentor ini hanya di lakukan pengukuran pada level 1

Silahkan di isi pernyataan di bawah ini dengan parameter tingkat kepuasaan sebagai berikut

Tingkat Kepuasaan :
4 = Sangat Puas
3 = Puas
2 = Kurang Puas
1 = Tidak Puas

Mekanisme di lapangna sederhana. Setiap pembicara/pemateri harus mencantumkan url di akhir slide persentasinya. Para peserta yang menggunakan smartphone bisa langsung mengisi dan submit sesuai dengan link url yang di berikan pembicara/pemateri di akhir slidenya.

Untuk mengantisipasi peserta yang tidak mempunyai akses internet. Panitia harus menyediakan smartphone/notebook yang bisa mengakses internet.  Smartphone/notebook tersebut bisa di pergunakan secara bergilir oleh peserta yang tidak memiliki akses  internet.

Defenisi peserta adalah semua orang yang hadir kecuali pembicara.

Itu sekiranya, yang bisa ane sampaikan. Kita yakin benar bahwa hidayah adalah hal prerogatif ALLA Ta’ala. Apa yang kita lakukan saat ini hanya dalam kerangka untuk menyempurnakan ikhtiar kita. Agar amalan ini bisa menjadi pemberat kebaikan kita di yaumil hisab kelak

The IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s