Kisah Si Penunda Menghadapi Ujian Di Kampusnya

Posted on Updated on

Kisah klasik tentang si penunda. Sikap seseorang yang kalah oleh waktu. Si penunda selalu gagal mengendalikan waktu, hampir sebagian hidupnya di kendalikan oleh waktu. Saya ingin bercerita kisah sederhana tentang si penunda yang akan menghadapi ujian di kampus. Pada saat itu, si penunda memiliki waktu satu minggu sebelum waktu pelaksanaan ujian. Kampus memang memberikan waktu masa tenang agar mahasiswa bisa mempersiapkan dan menghadapi ujian dengan baik.

Si penunda begitu penuh antusias menghadapi ujiannya. Seminggu sebelum jadwal ujian, si penunda mengumpulkan semua bahan kuliah terkait mata kuliah ujiannya. Semua bahan di kumpulkannya dengan rapih. Waktu pelaksanaan ujian tersisa 5 hari lagi. Si penunda kemudian berucap dalam hati “santai saja masih ada lima hari, saatnya refreshing dulu untuk bersiap dalam berstress ria”.

Waktu terus berputar, si penunda terlenakan. Sejenak kemudian dia melihat tanggal jadwal ujian, ternyata waktu persiapan menghadapi ujian tersisa 2 hari lagi. Dia langsung bergegas mengambil semua bahan pelajaran untuk di pelajari. Semua di lakukan dengan penuh spontanitas. Di bacanya semua bahan sekilas. “Sepertinya ini mata kuliah yang mudah, saya bisa mempelajarinya dalam semalam” ujar si penunda.

Si penunda pun, mencari dalih lainnya. Di ajak kawannya untuk bermain game dan nongkrong bersama kawannya. Berjam – jam tanpa henti, sampai hari telah berganti. Sejenak dia melihat kembali jadwal ujiannya, ternyata waktu tersisa satu hari lagi. Dia hany punya malam ini untuk persiapan menghadapi ujian besok hari.

Dia sudah bertekad harus lulus dengan nilai yang baik. Tetapi kembali di ulangi metode sks(Sistem Kebut Semalam). Padahal tahun kemaren dia sudah pernah merasakan gagal akibat metode sks. Waktu berhasil mengalahkannya kembali. Menjelang sore di kumpulkannya semua bahan. Dia bertekad  akan mengulas semua bahan kuliah dan bersedia bergadang semalam suntuk untuk mempelajari semua bahan kuliah yang akan di ujiankan besok pagi.

Waktu menunjukan jam  7 malam. Untuk menghadapi malam panjang ini, dia menyiapkan amunisi seperti kopi dan makanan ringan. Si penunda memutuskan untuk mencarinya di toko kelontong sekitar tempat tinggalnya. Di dalam perjalanan, si penunda bertemu dengan seorang kawan yang mengajaknya berbincang. “OK tak apalah berbincang sebentar, toh masih jam 09 malam” ujar si penundan. Dasar si penunda !!!

Akhirnya pulang kembali sampai kerumah. Waktunya menunjukan pukul 09.30 malam. Si penunda terasa sangat mengantuk. Dia berpikir “sepertinya belajarjam 02 pagi akan lebih menenangkan dan situasi lebih kondusif”. Si penunda memutuskan untu tidur. Di aturnya jam weker pada hapenya. Ternyata waktu kembali mengalahkannya. Dia terbangun jam 5 pagi. Dia gagal bangun jam 02 pagi, akibat dari waktu tidurnya yang terlalu malam. Si penunda panik tidak karuan.

Gugup, resah dan gelisah menghantuinya. Tidak ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri. Si penunda terhanyut dalam penyesalan yang tiada bertepi. Alhasil ketika waktu ujian berlangsung, dia hanya disibukan mencari peluang untuk mencontek. Pengawas ujian curiga. Dia mendapat perhatian khusus dan hampir tidak ada peluang untuk mencontek. Akhir kisah ini bisa terbaca. Si penunda tidak mendapatkan target yang sudah di canangkan untuk mata kuliah tersebut.

Berikut ini hanya cerita fiksi, jika ada kesamaan dengan pembaca. Berarti anda sudah termasuk dalam kategori penunda juga. Maka, bersegeralah bertobat🙂
Bagaimana caranya ? Gampang !!! just take action hehe

The Iof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s