Paradoks Sekolah Bisnis

Posted on Updated on

Hampir Semua negara maju saat ini tercatat memiliki rasio entrepreneur terhadap jumlah penduduk di atas 5%. Jadi, ada korelasi positif antara ratio enterprenuer terhadap jumlah penduduk dengan tingkat perekonomian suatu bangsa. Itu sebabnya, harapan akan bermunculannya para pengusaha baru semakin membesar seiring dengan bertumbuhnya banyak sekolah bisnis di indonesia.  

Tetapi bagaimana dengan realita yang terjadi ? Pada umumnya sekolah bisnis di indonesia hanya berhenti pada merawat bisnis yang sudah berjalan, tidak pada membuat bisnis baru (entrepreneur).

Ada perbedaan antara pembuat bisnis(entrepreneur) dan perawat bisnis(Employee). Dalam berwirausaha, peluang menciptakan lapangan kerja yang akan mengurangi pengangguran sekaligus juga mengurangi angka kemiskinan. Sedangkan para perawat bisnis(employee) bertugas untuk memastikan bisnis yang sudah berjalan sesuai target.

Jika pola kurikulum yang di hadirkan, masih berkutat pada cara – cara lama. Maka, harapan lahirnya para pembuat bisnis(pengusaha) yang bisa berperan menciptakan lapangan kerja baru dan menggerakan roda ekonomi hanya menjadi fatamorgana di siang bolong.

Jadi, jika anda ingin menjadi seorang entrepreneur. Jangan masuk ke sekolah bisnis !!! Karena rasionalitas anda akan menjadi lebih dominan setelahnya. Dampaknya, perasaan was-was akan selalu membayangi ketika ingin memulai bisnis yang akan anda coba jalankan. Al hasil, bisnis pun urung untuk di mulai.

ThE IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s