Super Solo Survival

Posted on Updated on

Saya mendapatkan pengalaman menarik dan berharga dari pelatihan pengembangan diri yang di adakan sekitar seminggu selalu. Judul dari pelatihan ini adalah “ Super Solo Survival”. Sesuai dengan judulnya. Pelatihan ini menitik beratkan pada kemampuan diri untuk bertahan dengan perlengkapan yang sederhana.

Setiap peserta harus mampu memenuhi kebutuhan makan dan minum yang bersumber dari alam tempat di laksanakan pelatihan ini. Seperti yang kita ketahui makan dan minum merupakan kebutuhan fundamental bagi kita. Pada diagram maslow kebutuhan tersebut terletak pada posisi paling terendah.

Jadi, untuk menyelesaikan(menggapai) kebutuhan – kebutuhan di atasnya (lainnya). Seseorang harus bisa melewati kebutuhan dasarnya(fisilogis) berupa makan dan minum. Tidak hanya tentang memenuhi kebutuhan makan dan minum saja. Kemampuan untuk mempertahankan diri dengan membuat perlindungan(bivak) menggunakan perlatan seadanya juga harus di miliki masing – masing peserta.

Substansi dari pelatihan ini lebih menitik beratkan pada mental. Vitalitas mental masing – masing peserta benar – benar di uji. Ternyata tubuh memiliki potensi yang lebih besar dari yang kita ketahui. Namun seringkali, kekuatan potensi tubuh terhalang oleh mentalitas yang lemah.

Tidak ada kerjasama dalam pelatihan ini. Setiap peserta di “paksa” untuk bisa bertahan secara mandiri. Bersahabat dengan alam menjadi sesuatu yang tidak bisa tertawarkan lagi. Membiasakan diri dengan air mentah, dan buah – buahan yang belum masak demi sekedar mengoabti rasa lapar menjadi hal yang biasa.

Makanan yang bisa hanya sekedar mengisi perut menjadi barang mewah. Tidak ada tempat untuk rasa lezat. Setiap peserta berkompetisi untuk bertahan hidup. Walaupun sebenarnya, itulah yang terjadi pada kehidupan kita sehari – hari. Tanpa kita sadari, kehidupan yang kian pelik telah memaksa kita untuk saling berkompetisi antara satu dan yang lain.

Pelatihan tersebut membuka cakrawala tentang arti syukur. Betapa kenikmatan yang kita rasakan sehari – hari begitu banyak yang luput. Pelatihan tersebut juga mengajarkan kita untuk berempati terhadap bangsa palestine yang harus bertahan hidup selama bertahun – tahun dari penjajah paling kejam di atas muka bumi ini yaitu bangsa Israel.

ThE IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s