Bincang Tentang Rezeki Dan Usia

Posted on Updated on

Terjadi perbincangan hangat diantara tiga orang sekawan siang itu. Mereka berbincang mengenai pertumbuhan pengeluaran yang tidak sebanding dengan pertambahan pemasukan, belum lagi tambahan ancaman berupa pengurangan tenaga kerja dalam rangka efesiensi perusahaan.

Persaingan bisnis memang semakin kompetitif dewasa ini. Banyak perusahaan yang akhirnya harus gulung tikar, karena kalah bersaing dan tergerus dengan ketatnya persaingan. Ketiga orang sekawan itu berandai – andai, mereka bandingkan antara menjadi pegawai negeri sipil, menjadi pegawai Badan Usaha Milik Negera, dan pegawai swasta.

Terjadi perbedaan sudut pandang tanpa mengurangi rasa berkawan diantara mereka. Muncul pernyataan- pernyataan yang mengatakan bahwa menjadi PNS mempunyai keunggulan dari aspek keamanan. Setidaknya, ancaman pengurangan tenaga kerja amat kecil peluangnya atau, bahkan hampir dikatakan tidak ada. Sehingga, seorang PNS bisa bekerja dengan rasa aman sampai usia pensiun(55 tahun).

Ada juga pernyataan lain, menjadi pegawai BUMN juga memiliki rasa aman yang tidak kalah dengan pegawai PNS, belum lagi di tambah tunjangan – tunjangan hidup yang lebih besar. Sehingga, rasa aman bekerja sampai usia pensiun (55 tahun) terbilang hal yang lumrah.

Beda halnya dengan pegawai swasta, ancaman pengurangan tenang kerja berpeluang lebih besar dari yang lain. Hal ini melahirkan pernyataan yang mengatakan bahwa bisa bekerja sampai usia pensiun bagi pegawai swasta merupakan prestasi tersendiri.

Sampai akhirnya, datang seorang  kawan lain yang mengatakan dan bertanya kepada mereka  “Kenapa begitu fokus pada keinginan untuk bisa bekerja sampai usia pensiun. Padahal, tidak ada yang tahu apakah kita besok masih tetap hidup atau tidak, kan?  ”  

Perbincangan tersebut berakhir pada keinganan untuk bisa terus berkarya dan mengais rezeki sampai usia pensiun. Wajar memang, namun di sisi lain seolah – olah mengkerdirkan konsep rezeki itu sendiri. Penghasilan tetap (gaji) yang datang dari perusahaan tempat mereka bekerja bukan lah sumber rezeki. Hal ini begitu penting untuk di pahami secara utuh.

Allah Ta’ala yang menurunkan rezekinya melalui perusahaan di mana tempat mereka bekerja. Bukan kah kita sering mendapatkan rezeki dari arah yang tidak di sangka – sangka ? Seperti halnya, ada tetiba seseorang yang memberikan hadiah makanan dan barang kepada kita tanpa di minta.

Karena sudah begitu banyak kisah – kisah inspiratif tentang orang – orang yang bisa melompat lebih tinggi dalam level kehidupan dunia, justru setelah keluar dari pekerjaanya. Bumi Allah Ta’ala itu terbentang begitu luas, janganlah di sempitkan dengan sudut pandang yang kerdil dalam memandang rezeki.

Ibnu Umar mengatakan “bekerjalah untuk duniamu seolah-seolah kamu hidup seribu tahun lagi, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah kamu akan mati besok”.

Bekerja itu memang bisa menjaga izzah(Kehormatan) kita. Namun, bukan berarti melupakan persiapan kehidupan menuju negeri akhirat.

ThE IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s