Rezeki Pegawai Sholeh

Posted on Updated on

Apapun aktifitas yang di bangun dengan pondasi ketakwaan karena Allah Ta’ala akan bernilai ibadah. Begitu juga upaya dalam menjemput rezeki dengan bekerja, Ia bernilai ibadah dalam tiap aktifitasnya. Bekerja dalam kerangka berpikir yang benar dalam ruang ibadah, akan menambah keyakinan kita terhadap konsep rezeki yang benar.

Sehingga, peluang terplosok kedalam jeratan maksiat bisa terhindari atau setidaknya bisa terminimalisir. Dewasa ini, begitu banyak orang yang terlena disebabkan oleh pekerjaannya. Mereka menganggap karir dan jabatan dalam pekerjaan itu segala-segalanya, bahkan bersedia mengorbankan apapun untuk itu.

Seolah – olah pekerjaan menjadi “sesembahan baru”. Perintah atasan / bos dalam pekerjaan di response lebih cepat, di kerjakan dengan sebaik mungkin dan didahulukan dari pada perintah Allah Ta’ala yaitu menunaikan sholat.

Kewajiban sholat di tunaikan, setelah ada waktu tersisa. Itupun dengan kekhusyuan yang masih terbagi dengan pekerjaan. Apakah karir dan jabatan itu yang menjadi parameter pembeda takwa seseorang ? penolong kita di akhirat kelak ? Tentu saja tidak. Tetapi, mengapa pekerjaan begitu banyak memakan porsi waktu dan hidup kita?

Iya, mungkin banyak dari kita terlupakan bahwa rezeki yang kita dapatkan bukan berasal dari tempat kita bekerja. Tempat kita bekerja hanya sebagai sarana kita beribadah untuk menjemput rezeki yang sudah di tentukan oleh-Nya untuk kita.

Kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi. Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu’ [Asy-Syura:12]

Imam Hasan Al Bashri berkata : Aku tahu rezekiku tak akan diambil orang lain, karena itu aku tenang. Senada juga dengan nasehat ust yusuf Mansyur.

Dalam konteks ibadah di dalam pekerjaan, tugas kita hanya berusaha sebaik dan optimal mungkin agar nilai ibadah kita bisa bernilai optimal. Jadi, bukan karena ingin mendapatkan karir terbaik

Karena ada garis batas takdir yang membatasi antara kerja keras dan keinginan. Tidak semua orang bisa menjadi atasan, karena dalam sturuktur yang sehat, harus juga ada bawahan.

Ada kisah seorang pegawai yang sholeh. Dia lebih menempatkan prioritas lebih tinggi untuk aktifitas syiar islam dan sholatnya, jika dibandingkan dengan aktifitas pekerjaanya. Akan tetapi, dia tidak pernah sedikitpun mengurangi profesionalitasnya dalam bekerja. Akan tetapi, anehnya dia justru bersinar dalam karir pekerjaanya. Dia mendapatkan kenaikan pangkat 2 level langsung. Sesuatu yang jarang terjadi di kantor tempat dia bekerja.

Padahal saat itu kondisi kantor tempat dia bekerja tidak kondusif, beberapa rekan kerjanya yang lain memilih untuk resign dan atasannya sebelumnya sudah berganti, Hanya dia dan bos baru yang tersisa. Tetapi justru momentum itu lahir, pada saat itu tidak ada yang punya pengalaman dalam bidang itu kecuali dia. Point(+) lainnya, dia dikenal orang yang berintegritas dalam pekerjaannya.

Kok, momentum seperti itu bisa terjadi ? Iya bisa saja, Karena Allah Ta’ala berkuasa atas segala sesuatu, tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. Skenario ini terjadi atas ijin Allah Ta’ala. Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya.

Tentu saja, banyak kisah lain yang membuktikan bahwa ketakwan adalah jalan peluang membuka lebar pintu rezeki.

AllahSwt berfirman : “Barang siapa yang bertakwa pada Allah, Allah beri jalan keluar dari kesusahan dan akan beri rezeki dari arah yang tidak terduga-duga” (QS. Ath Thalaaq {65} : 2-3)

Apalah arti jabatan dan harta jika justru membuat kita kian jauh dengan Allah Ta’ala. Hakikat ibadah dalam bekerja pun memudar. Jika kita ingin kemudahan dalam menjemput rezeki, maka sudah sewajarnya kita harus lebih mendekatkan diri dengan Allah Ta’ala yang maha pemberi rezeki, bukan justu sebaliknya.

The Iof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s