Pejuang Kehidupan Di Antara Kita

Posted on Updated on

Wajah letihnya sudah tidak bisa di sembunyikan lagi dari senyum simpul itu. Namun, ketulusan dalam senyuman sederhana itu masih tersisa. Hari berganti menjadi malam, tugas sang mentaripun sudah digantikan oleh sinar rembulan.

Gelapnya malam tidak membuat cahaya semangatnya meredup, harapan akan luasnya lautan rezeki bagi mereka yang mau terus berusaha, masih terpantri dalam benaknya. Itu membuat Langkah kakinya tetap terayun untuk  menjemput rezeki yang telah di tentukan.

Dia terus berjalan tanpa tujuan akhir, dan langkah kakinya terlihat semakin gontai. Menyelusuri keramaian demi keramaian dengan penuh harap ada seorang yang membeli barang dagangannya.

Waktu sudah menunjukan jam 21.00 malam ketika itu, tetapi saya masih melihat tumpukan sandal (barang dagangan) pada tasnya yang terlihat masih penuh. Beban berat barang dagangannya yang di pikul pada pundaknya bisa terasa, ketika melihat rawut wajahnya yang lelah.

Rasa sedih, iba, dan kagum melebur dan melahirkan rasa syukur yang tak terhingga. Hidangan malam yang sedang disantap pada tenda makan sederhana itupun menjadi terasa sangat nikmat. Karena kemudahan dalam menjemput rezeki, mungkin tidak dapat di rasakan oleh semua orang.

Mari kita pancarkan doa agar pedagang sandal tersebut di berikan kemudahan dalam usaha menjemput rezekinya dengan jalan yang berkah. Dan juga mari kita berdoa untuk semua orang yang berusaha menjemput rezekinya dengan jalan yang berkah agar di beri kemudahan dan kesabaran. “Allahumma Istajib” (Ya ALLAH Ijabah-lah).

The Iof

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s