Menjemput Bidadari

Posted on Updated on

Dua tangan itu saling menggenggam. Tatapan mereka mengarah pada satu titik, yaitu seorang perempuan berbaju putih, berkerudung, dan berkacamata. Dokter Nia, SP.OG
“Well, saya harus menyampaikan kabar yang mungkin tidak terlalu menyenangkan, tetapi bagaimanapun, saya berharap kalian tidak berhenti berusaha.” Ungkapnya.
Dokter itu menghela nafas, “Citra, you’re normal”, sehat dan secara teoritis, sangat bisa punya anak. It’s just about time,” mata dokter Nia itu mengarah kepada pasien perempuan yang ada di hadapannya.
Wanita muda itu tersenyum melafazkan hamdalah, “oh syukurlah. Setidaknya dugaan orang bahwa saya tidak subur..
“no..no. that’s not true. But, the problem is..” kini dokter nia melirik laki –laki berwajah bersih dengan jenggot tipis yang duduk di sisi Citra, “Hardi, I’m So sorry.. saya harus katakan kalau.. berdasarkan hasil pemeriksaan air mani anda, kami menemukan adanya sel sperma so..” Dokter nia menunduk
Citra dan Hardi bertatapan. Tidak ada sperma?? “So saya tidak mungkin melanjutkan keterununan saya, begitu?” hardi menyambung kata – kata dokter nia dengan getir.
Bibirnya bergetar. Citra menggenggam tangan suaminya dengan erat. Bukan semata untuk menguatkan Hardi, ia juga ingin menguatakan dirinya sendiri. Kenyataan ini benar – benar di luar perhitungan mereka.
“Mang Hardi..” Bisik citra parau. Hardi tersenyum, pahit..


“Citra, Hardi .. kalian berdua adalah sahabatku. Kita sudah sering bertemu sejak dikampus dulu. Kalian orang –orang baik. Great . punya prestasi. Well, saya menyayangkan kalau kalian tidak berketurunan, “ Dokter nia bergantian menatap keduanya.
Citra memejamkan mata, sejenak mengingat saat –saat menjadi mahasiswa. Nia di kedokteran, dia di MIPA dan Hardi di Teknik. BEM menjadi tempat pertemuan mereka beraktifitas. Aktif, cerdas, menonjol, itulah mereka.
“Tetaplah berdoa dan berusaha,” Ucap Dokter nia. Citra tergeragap, “Tapi.. kata dokter.” Ungkapnya seolah di bangkiatkan dari mimpi buruk.
“Kalian masih memungkinkan punya anak lewat bayi tabung”, ujar dokter nia. “Bayi tabung?” Kejut Hardi Dan Citra berbarengan.
Azzosperma. Sebuah kenyataan yang sangat pahit untuk laki – laki seperti hardi. Semula, Citra menduga dirinya yang bermasalah. Selama setahun usia pernikahan mereka, ia tidak lelah kesana kemari untuk berkonsultasi. Normal.
Baru seminggu yang lalu Citra berhasil membujuk Hardi untuk memeriksakan. Hardi enggan, karena baginya, ini hanya soal waktu. ALLAH belum berkenan mengamanahi mereka seorang anak. Bujukan Citra berhasil setelah disertai sedikit aksi cemberut. Citra tahu, Hardi pasti akan mengalah. Hasilnya ? Menyehdikan.
“Mas? Belum Tidur?” Citra menghampiri suaminya yang tengah terpekur di tepi ranjang. Ia terbangun karena raba sisi tempat tidurnya kosong. Jam menunjukan pukul dua belas malam. Sepi. Dingin.
“Oh? Kamu terbangun, Dik?” Hardi salah tingkah. Citra mendesah, “Sejak pulang dari praktik dokter Nia, mas tidak pernah tersenyum. Mas …”
Citra kaget. Tangannya yang tengah memegang pipi hadi merasakan ada air disana. Kontan di peluknya laki laki itu, “Mas… menangis?” Tanya citra parau.
Hardi berusaha untuk tegar. Tapi detik berikutnya, ia tergugu di pelukan Citra. “Aku tidak berguna, dik. Aku tidak akan bisa memberikan mu anak..” Desis Hadi.
Ini bukan kemauan mas. Ini cobaan dari ALLAH. Jangan menghinakan diri begitu. Mas Hadi baik, shaleh, bertanggungjawab …” Citra tidak bisa meneruskan kata – katanya.
Cukup lama keduanya larut dalam adegan sentimental itu. Tidak ada kata –kata yang bisa dikeluarkan karena memang mereka tidak mampu. Pahit.
Citra berusaha untuk menahan sisi hatinya yang berontak, menuntu keinginan Citra untuk meminang anak. Ia tidak dapat membayangkan hari – hari sepi tanpa tawa dan tangis. Ruangan hampa tanpa canda dan tawa. Juga yang tidak akan terelakan, perasaan iri yang melihat keluarga lengkap dan berketurunan. Oh , sungguh memilukan baginya. Terlebih, bila timbul desas desis bahwa penyebab dari semua itu adalah kemandulan citra. Padahal..
“Dik, seandainya saja perempuan boleh poliandri, Mas Rela..”
“Mas ! jangan sebut itu! ALLAH menetapkan sesuatu semata – mata demi kebaikan.” Citra memotong kalimat Hardi dengan tegas.
Hardi menunduk. Desah panjangnyamengisi sunyi malam. “Aku tidak ingin membuat engkau menderita karena ku” Ungkaphardi tulus.
Citra menggeleng. Di ciumnya tangan Hardi berulang – ulang. Oh, ALLAH. Lelaki ini begitu baik dan begitu Sholeh . Siapapun yang berada di dekatnya pasti akan merasa nyaman. Bukan hanya Citra yang merasakan. Tetangga, teman, keluarga, bahkan mereka yang baru pertama kali berkenalan. Mengapa orang sebaik dia?? Citra menutup dialog batinnya.
“Mas, bukankah masih bisa kita upayakan lewat bayi tabung? Usul citra ragu..
Hardi tersenyum tipis. Ia menangkap keraguan istrinya, seperti juga dirinya. “Bayi tabung mahal kita harus menabung berapa lama? Uangnya. Citra terdiam sejenak. Penghasilan Hardi sebagai kontraktor dan penghasilan dia sebagai peneliti BATAN, pinjaman, sumbangan??
“Kita hidup sesederhana mungkin, mas. Pokoknya penghasilan kita prioritaskan untuk itu. Kita tidak usah memikirkan yang lain” Citra mulai bersemangat.
Hardi hanya tertawa kecil menyambut usulan istrinya, “Tidak usah memikirkan orang lain? Bagaimana tanggung jawab kita sebgai donator sebuah rumah yatim piatu? Orang tua asuh dua anak keluarga tidak mampu? Infak? Sedekah? Bagaimana, Citra? “ Hardi menatap dalamnya istrinya.
“Tetapi mempunyai anak juga ibadah.. “ Citra mencari alas an
Hardi menggeleng ,” Anak memang menjadi ladang ibadah, tetapi bisa juga menjadi kebun fitnah. Masih banyak ibadah lain yang bisa dilakukan tanpa mengorbankan banyak hal. Aku tidak bisa melakukannya, Dik, “Hardi berujar sedih.
Citra sudah menduga bahwa suaminya akan mengatakan seperti itu. Hardi tipe orang yang lebih suka mementingkan orang lain. Apalagi bila mereka dalam kesulitan.
Tapi aku ingin anak, jerit batin wanita itu
“Aku mau shalat. Ikut?” Hardi mengulurkan tangannya. Citra terdiam sebentar sebelum menyambutnya dengan senyum tertahan.
Hari – hari selanjutnya Citra lebih melihat sosok seorang sufi pada diri suamninya. Senyum Hardi masih kerap terulas, meski matanya menatap sayu. Yang sangat berubah yang Citra rasakan, ibadah – ibadah Hardidi di sepertiga malam menjadi semakin lama dan panjang. Dialog – diaolognya dengan ALLAH semakin menghabiskan waktu. Lembar – lembar Mushafnya lebih cepat berganti halaman. Bahkan di antara kesibukannya mengurus tender, Hardi seolah berlomba dengan Citra untuk mengurus pekerjaan rumah tangga.
“Kenapa mas lakukan ini semua.. lain dari biasanya?” Tanya Citra suatu ketika.
“Ini ladang amalku, Dik. Lagi pula aku ingin adik senang,” Ujar Hardi
“Mas.. Citra sudah ikhlas kok kalau memang kita tidak punya anak kandung. Citra sedang berpikir untuk mengasu anak Yatim. Insya ALLAH, di hadapan ALLAH nilainya tidak berbeda dengan mengasuh anak kandung, bahkan mungkin lebih.
“Hardi tertunduk”. Citra memeluk punggung kekar di hadapannya.
“Maafkan Citra, mas.. Maafkan . Citra tidak menyalahkan mas..”
Hardi menggeleng , berbalik, dan membalas pelukan istrinya. Ia ingin perihnya berkurang saat dia tahu Citra tidak menolaknya.
“Aku tidak ingin menjadi lelaki yang egois, dik. Biarkanlah aku memikirkan sesuatu yang beberapa hari ini muncul di benakku.” Bisik Hardi
“Apa?” Citra ikut berbisik.
Hardi menggeleng, “Belum saatnya adik tahu. Tapi satu hal yang bisa mas katakana, semua untuk kebaikan kita bersama.” Ujar Hardi.
“Itu saja?” Citra penasaran.
Hardi mengangguk
Dua bulan lamanya Citra didera penasaran. Selama itu ia hanya melihat suaminya semakin tenggelam dalam kekhusyuan. Hanya senyum penuh sayang yang Citra dapatkan saat ia bertanya tentang rahasia yang dulu Hardi sebutkan. Lalu, ketika saat tu tiba, Citra seperti terhempas dalam jurang penuh bebatuan.
“Tidak! Mengapa Mas tega melakukan ini semua? Mengapa? Mas piker Citra ini apa? Perempuan tanpa hati? Seenaknya dipindah sana sini!” Teriak Citra Kalap.
Hardi menghela napas. Ia sudah menduga kalau istrinya akan sangat-sangat terkejut.
“Dengar mas baik –baik, Dik. Sejujurnya, Mas ingin kita tetap bersama, selamanya. Tetapi Mas tahu, pasti Adik menginginkan untuk hamil, menyusui, mengasuh anak darah daging sendiri.. dan Mas harus tahu diri. Karena itu.. perceraian adalah jalan terbaik. Biarkan mas lakukan apa yang terbaik yang bisa mas lakukan untuk dakwah ini. Sedangkan engkau, Dik. Tugas utamamu adalah menjadi ibu, pendidik utama dan pertama generasi penegak kaliamat-Nya. Aku..” Hardi menyusut air yang meleleh disudut matanya.
Citra tergugu.
“Kalau seorang suami, istrinya tidak bisa memberikan seorang anak, dia boleh beristri lagi. Bagaimana dengan istri.. bila suaminya yang.. tidak bisa meberikan anak? Bagaimana Dik? Dia tidak boleh bersuami lagi kecuali jika suami pertamanya pergi.. sungguh, aku hanya ingin melakukan sesuatu yang menurutku pada tempatnya. Itulah bentuk keadilan yang bisa kuberikan” Jelas Hardi parau
“tapi .. Citra .. tidak mudah mas menjalani pernikahan yang baru..” isak Citra.
Hardi mengangguk-angguk. Direngkuhnya Citra erat. “rahman laki – laki yang sholeh, baik…bahkan mungkin jauh lebih baik daripada Mas. Mas tidak semena – mena melepasmu pergi begitu saja, Dik. Mas sudah mempersiapkan pengganti mas. Seseorang yang akan membersamaimu membentuk keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.. dengan anak – anak didalamnya tentu saja..”
Bagaimana Mas tahu kalau aka nada anak – anak “ Citra memutuskan kalimatnya.
“Insya ALLAH. Mas doakan. Lagi pula .. dari faktorketurunan dia, OK. Tidak ada masalah. Dan.. aku sudah menemaninya periksa. Dia normal, sehat dan yang jelas tidak azzospermia seperti aku. OK?” Hardi mencoba tersenyum.
“Mas!” Citra menggeleng
Hardi menutup mulut istrinya dengan telunjuk. Diserahkannya sebuah amplop yang tadi sempat dicampakkan Citra. Amplop berisi biodata Rahman Abdullah, calon suami citra pilihan Hardi. Setelah nanti mereka resmi bercerai.
“Pikirkan dengan hati ikhlas, tenang, dan pasrah. Yakinlah dik. Apapun nanti keputusannNya, itu yang terbaik buat kita. Jagnan terlalu menuruti perasaann, apa lagi hawa nafsu yang dipenuhi bisikan was –was dari setan, ya? Hardi menatap istirnya.
Citra terdiam lama.
“Mas Hardi mau kemana?” Tanya Citra nyaris tanpa suara.
“Menjemput bidadari yang lain ,” Jawab Hardi
Citra melepaskan pelukannya, “apa? Apa maksud Mas?” teriak Citra tanpa bisa tertahan.
Hardi tertawa, “ Jangan cemburu dulu. Bidadari itu..” Hardi menerawang. Desahan nafas kerasnya terdengar berulang ulang.
“aku ingin berjihad di Palestina. Ya, meski cuman pernah di Menwa dan Kepanduan, setidaknya aku punya azzam. Mudah – mudahan, ALLAH menikahkanku dengan salah satu bidadariNya.
“Jihad? Palestina?” Citra terbelalak tak percaya, Jadi.. segala persiapan ruhiya dengan meningginya intensitas ibadah itu bukan karena pelarian kekecewaan? Bukan sekedar atas semua ujian tapi dalam rangka persiapan jihad ke bumi palestina? Rabbi..
“Citra.. citra semakin mencintai Mas..” Bisik Citra spontan..
Hardi membalas dengan senyuman.
Lima bukan kemudian. Citra menikah dengan Rahman, seminggu menjelang keberangkatan Hardi menuju Palestina.
“titip istri.. eh, bukan ‘afwan. Jaga saudariku baik – baik , man” Ucap Hardi saat menyalami mempelai pria. “Insya ALLAH ucap Rahman penuh kesungguhan.
Di balik Hijab, Citra menunduk menyembunyikan air matanya yang bergulir gulir. Suara yang sangat dia kenal, suara yang mungkin tidak akan dia dengar lagi.
Barangkali Mas Hardi memang tidak layak untuk manusia bumi. Ia lebih pantas untuk bidadari, batin citra perih.

Oleh : Nurul F. Huda Dalam Buku “Menjemput bidadari”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s