Salah Kaprah Ramadhan – seri 2

Posted on Updated on

Pada kesempatan ini, saya akan coba membahas mengenai fenomena salah kaprah yang sering terjadi pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Setelah pada edisi Salah Kaprah Ramadhan seri 1, saya mencoba melanjutkan penulisan fenomena- fenomena lainnya.

Salah satu hal yang paling di nanti ketika kita melakukan aktifitas Shiyam/Puasa (puasa) adalah saat berbuka puasa. Berangkat dari perihal ini, sering kita mendengar berbukalah dengan yang manis selalu menjadi tagline di setiap kesempatan berbuka puasa.

Bahkan, dalam beberapa kesempatan ada juga yang mengatakan bahwa hal ini merupakan bagian dari sunah yang di anjurkan ketika berbuka puasa. Nah, dari sisi inilah yang cukup menarik bagi kita untuk di telaah..

Perihal mengenai “berbukalah dengan yang manis” menjadi tagline yang begitu popular di masyarakat. bahkan, seolah – olah menjadi sebuah perihal yang diharuskan. Fenomena ini juga bisa dikatakan bagian dari keberhasilan marketing sebuah produk minuman ringan teh botol sosro.

Padahal, jikalau kita ingin benar – benar mengikuti sunah Rasulullah ketika berbuka puasa. Justru yang di anjurkan berbuka dengan kurma. jadi, tagline berbukalah dengan yang manis itu bukan sunah Rasulullah.

Anas bin Malik berkata, “ Adalah Rasulullah saw berbuka dengan ruthab (kurma yang lembek) sebelum Shalat, jika tidak terdapat ruthab , maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau saw meneguk seteguk air.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)”

Dari redaksi hadits di atas jelas disebutkan bahwasanya, Rasulullah berbuka dengan kurma dan jikalau tidak ada maka dengan seteguk air. Akan tetapi, yang menjadi menarik kemudian adalah seolah – olah berbuka dengan yang manis menjadi sebuah anjuran yang bernilai pahala.

Kurma, dalam kondisi asli, justru tidaklah terlalu manis, klo tidak ada kurma Rasulullah pun hanya meminum air putih, Namun Tagline “Berbukalah dengan yang manis” justru menjadi sangat popular.

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks, bukan gula (karbohidrat sederhana). Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu diproses sehingga makan waktu.

Sebaliknya, kalau makan yang manis-manis, kadar gula darah akan melonjak naik, langsung. Bum. Sangat tidak sehat. Kalau karbohidrat kompleks seperti kurma asli, naiknya pelan-pelan.

Mengawali berbuka puasa dengan yang manis justru berpeluang menimbulkan penimbunan lemak seperti perut, pinggang, bokong, paha, belakang lengan, pipi dan sebagainya. Itu karena langsung membanjiri tubuh dengan insulin melalui makanan yang manis – manis.

Sekarang sudah saatnya kita mengubah pola berbuka puasa. Semoga kita tidak termakan iklan: ”Berbukalah dengan yang manis”. Hindari gula, manis yang dibolehkan adalah manis yang bersumber dari buah alami.

tHe IoF

2 thoughts on “Salah Kaprah Ramadhan – seri 2

    Fikri said:
    August 5, 2012 at 6:23 am

    Menarik sekali bacaan nya!!
    Sukses terus tuk sobat arkan !!!

      arkannr responded:
      August 5, 2012 at 6:34 am

      thanks my bro…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s