Beginilah Cara Mereka(Aktifis) Gugur

Posted on Updated on

Dunia kampus memang penuh dengan warna, dalam fase inilah banyak orang yang kemudian terbentuk karakter jati dirinya. Berdasarkan dalam pengamatan saya dilapangan; tidak sedikit pula orang yang  kemudian mengalami perubahan visi pandangan hidupnya ketika memasuki dunia kampus.

Jikalau berbicara dunia kampus yang dinamis; rasanya tidak lengkap jikalau kita tidak memasukan unsur objek penggeraknya yaitu mereka yang biasa disebut aktifis.

Rasanya sudah jelas klo dari penamaannya aktifis, berarti orang yang aktif dan berkantong tipis hehehe… cuman bercanda kok.

Nah, justru itu yang menarik; dari kebanyakan aktifis yang sy kenali, justru mereka lahir dari keluarga menengah ke bawah. Jadi, mungkin itu sebabnya kenapa disebut aktifis(seorang yg aktif berkantong tipis)hehehe..

Walaupun bukan berarti anak dari kalangan atas tidak ada yang menjadi aktifis. Karena bisa jadi nanti namanya jadi tidak enak, aktibel(seorang yang aktif, berkantong tebel) maap agak maksa😛.

Pada tulisan kali ini, berdasarkan pengamatan di lapangan. Saya ingin menceritakan bagaimana mereka berguguran. Walaupun sebetulnya, akan lebih baik menceritakan bagaimana mereka mulai begabung. Tapi entah kenapa pada saat ini lebih ingin menceritakan mengenai bagaimana mereka berguguran.

Mari kita mulai :

  1. Mereka yang berguguran, karena memiliki cara pandang perjuangan yang berbeda

Pada kasus yg pertama ini; sering terjadi ketika seseorang itu sudah mulai mengenal pergerakan dengan semangat 45, tetapi tidak mau memahaminya dari berbagai sudut pandang. Dalam artian pola pandang sempit.

Kita akan menemukan yang tipe seperti ini; setelahnya akan menjadi golongon penilai, pencela, komentator. Intinyanya seh tidak produktif ….. akan tetapi, ada juga yg menarik dari kasus pertama ini.

Terkadang tipe yg seperti ini ada yang membuat/mencari cara berjuang tandingan dengan cara yg diyakininya benar. Nah , ntuk yang seperti ini, saya masih menaruh hormat yang besar. Karena perlombaan dalam kebaikan itu sangat d anjurkan, dengan catatan caranya fair hehe..

2. Mereka yang berguguran, karena alasan akademik….

Pada kasus yang kedua ini; mempunyai jumlah nominal yang lebih banyak dari kasus yang pertama. Biasanya seorang aktifis; karena saking sibuknya dengan berbagai amanah dari ekstrakurilulernya(di luar kuliah), sehingga amanah orang tua(kuliahnya) menjadi terbengkalai.

Pada akhirnya; mereka yang berguguran karena masalah ini, mereka juga tidak berhasil  mendongkrak posisinya dalam akademik.

Karena pada dasarnya kehancuran akademik itu; biasanya karena kurang bagusnya manajemen waktu, hal ini bisa terlihat banyak juga aktifis yang mempunyai akedemik bagus. Ingat manajemen waktu sangat penting bagi seorang aktifis, seperti yang dikatakan oleh imam syahid hasan al banna.. “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia”

Jadi ntuk kasus yang kedua ini sifatnya kondisional.

3). Mereka yang berguguran, karena VMJ(Virus Merah Jambu)…..

Wah menarik, pake istilah virus yah karena memang kasus yg ketiga ini sangat mewabah. Uniknya virus ini sangat mudah merasuki siapa saja dan dimana saja. Pada kasus yang ketiga ini jumlahnya kapasitasnya sangat membludak rumpah ruah melimpah… (lebay bangt yah)..

Pada kasus yang ketiga ini; biasanya mempunyai ciri- ciri awal yaitu produktifitas sang aktifis berkurang sedikit demi sedikit. Hal ini disebabkan konsentrasinya berkurang dan terpecah belah.

Di satu sisi roman picisannya membutuhkan alokasi waktu tertentu, disisi lain amanah aktifitas juga butuh diselesaikan. Biasanya dengan semakin banyaknya tuntutan dari sisi roman picisan yaitu sang pacar, maka biasanya banyak dari mereka(para aktifis )memilih mundur alias pendi(pensiun dini) dari jabatan aktifisnya.

Yang menarik adalah ketika sang aktifis sudah mulai bergulat dengan roman picisan, pengorbanannya kepada sang kekasih biasanya jauh lebih besar dari pada ketika dia menjadi seorang aktifis.

Contoh ketika dia sedang menggarap sebuah event dikampusnya, bahkan untuk mengeluarkan uang sedikit saja untuk fotocopy pamphlet (si aktifis) tidak mau, tetapi ketika itu ntuk sang kekasih yg belum tentu jadi jodohnya(istri/suami) kelak, dia(sang aktifis) bahkan rela mengeluarkan seperempat dari uang jajannnya untuk memenuhi kebutuhan sang kekasih.

Ini kisah nyata loh…makanya menarik ntuk di ceritakan…

Sy kira itu hanya sebagian kecil saja, dari pengamatan dilapangan yg  saya temui.  Bagi saya menjadi seorang aktifis adalah bagian dari kenikmatan luar biasa ketika menjadi seorang mahasiswa.

Sebuah kenangan yg membuat kehidupan kita menjadi lebih berwarna…

tHe IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s