Kenapa harus cemas dengan sesuatu yang sudah di tentukan

Posted on Updated on

“Pagi itu udara begitu sejuk dan menyegarkan, sang suryapun masih tersipu malu untuk memancarkan sinarnya, air embunpun masih berpegangan mesra pada hijaunya dedaunan, lantunan aktifitas hariannya wirid al matsuratpun telah selesai dibaca. Lelaki itu memulai hari dengan tatapan mata yang tajam, derap langkah yang cepat, dan aura keoptimisan yang terpancar ,sehingga wajar jikalau orang-orang disekelilingnya selalu merasakan semangat yang sama.

Pagi itu rijal memulai aktifitas dengan semangat pangkat dua, karena pagi hari yang cerah itu merupakan hari dimana wawancara untuk rekruitasi anggota baru bagi organisasi(wajihah) yang sedang dipimpinnya saat ini. Beberapa wawancarapun berjalan apa adanya bahkan cenderung datar, karena jawaban serta sikap peserta wawancara belum memancarkan sikap yang layak untuk dipilih guna menjalankan estafet perjuangan kepengurusan kedepan.

Sampai pada akhirnya, rijalpun mendapatkan perannya sebagai pewawancara. Sebagai ketua dari organisasi tersebut rijal lebih ketat dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam wawancaranya, karena sebagai orang nomer satu di dalam kepimpinan pada organisasi itu; rijal tidak ingin salah memilih rekan kerjanya kelak.

Jikalau respon jawaban yang dinginkan tidak sesuai dan cenderung bertele-tele, maka rijal akan memberikan respon balik yang bisa cukup memberikan luka yang membekas dalam bilangan hari, iya, itulah karakternya yang tegas dan lugas, mungkin itu juga salah satu alasan mengapa dia begitu di segani. Sampai pada akhirnya pertemuan itu pun terjadi. Seorang wanita berwajah teduh yang dibalut jilbab lebar berwarna putihpun mendapatkan gilirannya dalam wawancara.

Wanita itu dikenal dengan nama desi, pada saat itu rijal minta ditemani sahabatnya rida dan ridwan, hal itu dibutuhkan karena memang untuk menghindari fitnah nantinya. Ketika wawancara berlangsung ada sebuah jawaban dari pertanyaan yang sederhana, akan tetapi hal inilah yang kemudian menggetarkan hati rijal pada saat itu. Saat rida menanyakan kepada desi, “hal apa yang paling kamu takuti? ”, dengan suara yang lembut tetapi tidak mengurangi unsur ketegasan didalamnya desi menjawab :”Allah ”. Seketika itu rijal pun tersenyum simpul, akan tetapi pembawaannya tetap tenang, yang menarik bukan apa yang terlihat secara zhahir(tampak) pada rijal,tetapi yang menarik adalah apa yang tersembunyi(khafiy) pada diri rijal. Hatinya bergetar hebat, perasaannya tidak karuan, seketika itu juga rijal beristighfar dan berta’awudz guna bisa mengendalikan dirinya.

Karena memang syaithan sangat pandai melihat peluang sekecil apapun. Kenapa jawaban itu bisa membuat rijal takjub.? Karena memang wajihah yang dipimpinnya adalah wajihah ‘ammah(organisasi umum), jawaban itu merupakan jawaban tunggal diantara jawaban peserta wawancara yang lain. Diantara peserta wawancara yang lain, kebanyakan menjawab:” hantu, genderuwo, pocong, kuntil anak dan masih banyak lagi jawaban yang berbau klenik lainnya”. Akan tetapi, jawaban wanita berwajah teduh yang dibalut kerudung putih yang lebar itu sungguh mengganggu hati yang selama ini dijaga rijal dengan baik. Lihai memang setan dalam menggoda; celah sekecil apapun diusahakannya menjadi maksiat, bahkan sesuatu yang fitrahnya dalam konteks ketaatan dirubah menjadi pintu maksiat.

Perkenalan awal itu masih melekat jelas pada pikiran rijal. Jawaban itu, sosok pemalu itu, wajah teduh itu, masih terekam jelas pada pikiran alam bawah sadarnya. Perjalanan organisasi itu dimulai, beberapa agenda mulai bergulir, dalam suasana interaksi yang cukup sering diantara rijal dan desi, ternyata berdampak pada suasana hati rijal yang memang dari awal sudah ternodai setitik kotoran.

Itulah yang membedakan antara penyakit yang berada didalam hati dengan penyakit yang terlihat secara fisik. Penyakit yang berada didalam hati, terkadang si pemilik hati tidak menyadari bahwa penyakitnya semakin lama semakin memburuk sehingga semakin keras hatinya. Kemudian jikalau diteruskan hal seperti ini bisa membuat cahaya keimanan menjadi meredup, kemudian jikalau penyakit fisik cenderung terlihat secara jelas sehingga selalu mendapatkan prioritas pengobatan, sehingga cepat disembuhkan.

Agenda-agenda kerja yang merupakan tabungan amal sholehnya kelak menjadi kurang bermakna dan cenderung datar, karena berjalan tanpa ruh ketaatan kepada sang penguasa langit dan bumi. Penyakit hati itu tanpa disadari semakin kronis, semakin parah, motivasi-motivasi amal sholeh dengan tujuan awal yang begitu mulia, sedikit demi sedikit mulai tergeser dari orientasi awalnya.

Penyakit hati itu, perlahan namun pasti mulai mengotori dinding ketaatan yang telah dibangunnya dan mencuri potongan keimanan didalam hatinya. Rijal mulai kehilangan jatidirinya, sosok tanggung itu mulai kehilangan semangatnya. Grafik akumulasi Lembar mutaba’ah(evaluasi) ibadah yaumiahnya dalam seminggu semakin menunjukan penurunan. Hari-Hari rijal mulai diisi dengan lamunan-lamunan kosong yang merusak, lamunan-lamunan yang membuainya, lamunan-lamunan yang hanya berisi pikiran-pikiran seorang laki-laki pengecut, karena mengharapkan sesuatu ikatan yang indah tanpa pernah berani mewujudkan secara nyata dengan keberkahan didalamnya, keberkahan yang dibangun berdasarkan sebuah ikatan yang suci. Sahabat-sahabat nyapun sudah mulai gerah dengan kelakuan rijal, terutarama sahabat teman satu kosannya deni; yang juga temen seperjuangannya, dimana persaudaran mereka dibangun didalam lingkaran peradaban yang penuh dengan kehangatan ukhuwah.

Deni gerah melihat sahabatnya rijal yang mulai kehilangan jatidirinya, seorang al akh dengan militansi tinggi berubah menjadi melankolis yang lemah tidak berdaya. Layaknya seorang Khalid bin walid yang berubah menjadi romeo kesiangan; karena disebakan panjangnya angan-angan yang tidak berujung aksi.

Dalam sebuah kesempatan, deni akhirnya memberanikan diri guna mencari tahu apa yang terjadi dengan sahabatnya tersebut. Ruangan itu memang tidak besar, bahkan langit-langit kamar itu sudah mulai menunjukan kerapuhannya. Tetapi ruangan itulah yang kemudian menjadi saksi curahan hati sang singa.

Denipun menanyakan apa sebenarnya yang terjadi pada diri sahabatnya rijal, hal ini dilakukan deni untuk menghindari terlalu banyak prasangka (yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ijtanibuu katsiiran mina alzhzhanni inna ba’dha alzhzhanni itsmun “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa….” QS:49:12). Karena Teringat ayat itu pula lah, kemudian deni berusaha untuk tabayyun(cek dan ricek) dengan rijal.

Akhirnya, rijalpun menceritakan sosok itu, sosok yang telah merebut kekhusyuan dalam ibadahnya, sosok yang selalu menghampiri lamunan-lamunannya, sosok yang selalu merubah orientasi niatnya dalam beramal sholeh, ketika mereka sedang berkolaborasi dalam sebuah amal, sosok yang telah mengikis gunung iman dalam hatinya.

Tanpa disadari air matapun mengalir dari sosok seorang rijal, menceritakan kisah-kisah itu menambahkan derita dihatinya; layaknya bunuh diri yang tak mati bagi rijal. Denipun hanya menyimak cerita itu, kata-kata demi kata didengarkannya dengan penuh seksama.

Setiap rijal menyebut nama desi tanpa disadari airmatapun turut mengalir dari sorot mata yang biasanya menampilkan aura optimis, memang benar orang bijak berkata “rasa cinta yang membuat kita menjauh dari sang pencipta pasti akan membuat kita semakin melemah, akan tetapi jikalau rasa cinta itu membuat kita semakin mendekat dengan sang pencipta justru akan semakin membuat kita menguat”.

Deni tidak ingin memvonis sahabatnya itu, karena dia sadar bahwa ketika dia berbuat kesalahan dia juga tidak ingin orang lain memvonisnya. Ruangan kecil itu menjadi saksi… iya bahwasanya ruangan itu menjadi saksi.. denipun pilu mendengar kisah itu. Akan tetapi, Deni hanya bisa mendengar dalam diam, situasi jiwa rijal sangat rapuh pada saat itu, jikalau salah sedikit kata yang terucap boleh jadi meninggalkan bekas luka di hatinya yang justru malah membuat luka yang sebelumnya telah ada semakin membesar.

Sungguh seorang sahabat sejati tergambar jelas pada sosok deni, sahabat yang mengerti, sahabat yang mau memahami. Sikap bijaksana yang diambil deni dalam permasalahan rijal hanya bisa diaplikasikan oleh orang yang benar-benar mau menghayati apa yang dirasakan oleh orang yang berada dalam masalah itu.

Penghayatan itu tidak lah mudah butuh penjiwaan yang lebih, butuh usaha yang keras dan hal tersebut baru bisa benar-benar dilakukan oleh seorang sahabat sejati yang mau mengerti dan memahami. Karena memang saat itu yang dibutuhkan rijal hanya seorang pendengar, terkadang memang orang hanya butuh seseorang yang mau mendengarkannya.

Detik jam pun terdengar diantara kesunyian ruangan tersebut, ceritapun berlanjut rijal mengakui bahwa dia melakukan kesalahan fatal. Sebuah kesalahan yang membuatnya terpuruk sampai ketitik dasar, pepatah mengatakan jangan bermain api jikalau tidak mau terbakar, begitupula jangan bermain hati jikalau tidak siap karena hanya akan mengotori dan membakar hati.

Hingga pada akhirnya, rijalpun menyudahi ceritanya, tetesan air mata itu pun masih terlihat ketika rijal menyudahi ceritanya dengan perkataan “mencintai desi saat ini seperti bunuh diri yang tak mati bagiku”. Di akhir pertemuan deni mengatakan kepada rijal, sebuah rangkaian huruf dengan jumlah yang tidak banyak tapi sangat menghujam hingga kepalung jiwa rijal.

Sahabat sejati itu mengatakan dengan senyuman yang tersimpul diwajahnya “Tobatlah wahai saudaraku” kumpulan huruf itu sederhana, tapi indah dan mempunyai banyak makna. Seketika itu juga rijal terhentak dan merenungi kesalahannya, sebuah titik cahaya mulai menerangi sisi hatinya yang pernah gelap.

Memang benar kata-kata itu sederhana, akan tetapi keikhlasan dan ketulusan sang sahabat sejatilah yang menjadi penguat hentakan hidayah itu, hentakan yang menggedor tumpukan kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan rijal. Sekali lagi ruangan mungil itu menjadi saksi bisu keindahan interaksi kedua sahabat ini, keindahan memahami dan keindahan keterbukaan diantara keduanya.

Setelah deni meninggalkan ruangan itu, rijal masih terngiang-ngiang kata-kata sahabatnya. “Tobatlah wahai saudaraku” kata-kata itu seolah menjadi penguat batinnya untuk bangkit dari segala keterpurukan ini. Perenungan panjangpun menghiasi malam rijal pada saat waktu utama di ijabahnya doa, rijal membentangkan sajadahnya untuk bersujud, untuk mengadu semua permasalahan hidupanya, doa panjang pun terucapkan, sajadahnyapun terbasahi oleh tetes air mata penyesalan, air mata tobat, dan air mata memohon petunjuk sebagai bentuk penghambaannya.

Lembar demi lembar Quran miliknya kini berganti lebih cepat, malam-malamnya selalu diisi dengan penghambaan dalam setiap sujudnya. perkataan sahabatnya benar-benar menikam rasa bersalahnya, teringat perkataan seorang ulama yang sholeh ibnu athailah “Tiada yang bisa mengalahkan hawa nafsu kecuali kencintaan kepada Allah yang menggetarkan hati dan rasa rindu kepada-Nya hingga membuat kita merana”. Aura keoptimisan itu mulai muncul kembali, jatidirinya mulai terlihat, sedikit demi sedikit bangunan ketaatan yang telah hancur kembali di bangunnya. Nuansa iman mulai menyala, tarikan nafas mulai panjang, sorot mata tajam itu telah kembali.

Ketika jiwanya sudah benar-benar tertata sedikit demi sedikit. namun, ada bebarapa masalah yang masih mengganjalnya. Jenjang kerja kepengurusan masih berjalan. Secara otomatis interaksinya dengan desipun masih berlangsung.

Walaupun rijal sedikit demi sedikit mulai bisa menguasai diri, tetapi rijal khawatir setan dengan mudah menguasai dirinya kembali kelak, sungguh dilema mengundurkan diripun tidak bisa karena posisinya sebagai ketua, sedangkan disisi lain memberhentikan desipun tidak mungkin karena kinerjanya bagus dan memuaskan banyak pihak(rekan kerja yang lain).

Akhirnya, dengan tekad bulat membaja ditambah laju semangat kepemudaannya, rijal bertekad untuk mengkhitbah desi. Malam itu bulat sudah tekad rijal untuk mengkhitbah desi. Pada pertemuan(liqo) rutin pekanannya, rijal menyampaikan kegundahan hatinya kepada sang pendidik(murabbi), kegundahan yang sempat mencuri khusyuan ibadahnya, kegundahan yang sempat mencuri semangat jiwa optimisnya, kegundahan yang sempat mencuri orientasi tujuan suci dari setiap amal sholehnya.

Pembicaraan antara kedua orang yang telah dewasapun terjadi setelah pertemuan(liqo) rutin pekanannya usai, rijal mengatakan niat yang sudah bulat membaja kepada murabbinya. Berbagai alasan yang berasal dari lubuk hati jiwa yang paling dalam sudah dikeluarkannya.

Aura semangat dengan alasan-alasan yang sangat logispun dipaparkannya begitu tertata huruf demi huruf, dengan harapan sang murabbi menyetujui dan kemudian membantu proses tersebut. Sayang sekali, sang murabbi lebih mengetahui binaannya(mutarabbi) dengan sudut pandang yang lebih objektif. Impian indah nan membuai yang digambarkan rijal secara jelas, ternyata tidak membumi, realita dilapangan akan berbicara lain kelak.

Beban perkuliahannya yang masih satu tahun lagi,maisyah(pendapatan) pun masih subsidi dari orangtuanya ditambah kecenderungan orientasinya itu lebih dominan pada factor internal(fisik, harta, dan kedudukan) semakin menunjukan bahwa rijal hanya ingin nikah bukan siap nikah. Titik objektif itu yang kemudian menjadi pertimbangan sang murabbi, bukan rijal namanya kalau menyerah begitu saja, sekali lagi dia jelaskan kenapa dia harus menyegerakan hal tersebut, walaupun pada akhirnya tetap mendapat jawaban penolakan yang sama.

Akhirnya, dengan jujur dia mengatakan bahwa dia sangat takut sekali kehilangan desi, dia sangat takut kalau desi dinikahi orang lain, dia sangat takut sampai ketakutan itu begitu terpancar jelas dari mata yang sudah berkaca-kaca. Sampai pada akhirnya, setelah melakukan beberapa kali konsultasi dengan murabbinya, rijal mulai menemukan titik objektif bahwa dia hanya ingin nikah dan belum siap nikah.

Murabbinya pun meminta rijal untuk lebih membersihkan hatinya lagi dan meminta rijal mempersiapkan dengan baik apapun yang diperlukan karena menikah itu bukan perkara sederhana. Kemudian rijalpun memilih untuk mengikhlaskan diri, rijal memilih pada sudut pandang objektif, bahwa memang dia hanya ingin menikah bukan siap menikah.

Berangkat dalam kondisi objektif yang berlandaskan realita, rijal ingin menunda nikahnya, segala hal mulai dipersiapkannya dengan baik mulai dari menata hati, menambah intensitas ibadahnya, menambah keilmuannya, menambah pundi-pundi kantongnya(menjadi mandiri), segala hal yang berhubungan dengan tujuannya itu benar-benar mulai dipersiapkan dengan baik.

Waktu berjalan detik demi detik beriringan dengan perbaikan diri yang menghasilkan persiapan yang matang. Sampai pada akhirnya, memang rijal sudah pada titik benar-benar siap menikah, Tak terasa dua tahun telah berlalu, kemudian rijal kembali mendatangi murabbinya dengan niatan yang sama untuk menyerahkan proposal nikah kepada murabbinya, akan tetapi dengan kondisi yang berbeda, kesabaran dan keikhlasan dalam putaran roda waktu telah mengajarkannya banyak hal.

Rijal menyerahkan proposal nikah kepada murabbinya dengan seutuhnya/ tanpa menunjuk calon akhwat yang akan di nikahinya, tetapi itulah unikny sekanario ALLAH Ta’ala, semua bisa berjalan indah jika diiringi ikhtiar yang ikhlas dan keridhoan dengan segala ketentuanNya. Sungguh keikhlasan, keridhoan, dan perngorbanan kerja keras rijal berbuah manis, klo jodoh memang tak akan lari kemana, rijal dipertemukan dengan desi dalam forum sarana pernikahan yang lebih terhormat dan terjaga, rijal dipertemukan dengan desi dengan hati yang lebih bersih dan lebih tertata.Sampai pada akhirnya proses itu berjalan baik, indah dan penuh barokah pada waktunya.”

Cerita diatas adalah kisah nyata dari salah seorang sahabat saya mengenai cerita cintanya yang pada akhirnya memang berujung indah, tetapi untuk penamaan tokoh yang disebutkan hanya sebatas fiksi saja. Pada awalnya ketika kita membaca cerita di atas ironis memang, seorang aktifis dengan determinasi tinggi tergoda pada kemaksiatan yang terbungkus dengan ketaatan.

Begitulah realita, semuanya tidak akan pernah selalu sama seperti yang kita harapkan. Tidak semua orang bisa berhasil melalui godaan seperti yusuf a.s, tidak semua orang bisa berhasil melewati rayuaan seperti Khalid al-miski. Itulah totalitas setan dalam menggoda ranah ketaatanpun bisa menjadi pintu maksiat.

Cerita di atas merupakan salah satu pembuktian bahwa masalah jodoh bukan sesuatu yang harus dicemaskan berlebihan, biarkanlah sekanario ALLAH berjalan indah dengan ikhtiar kita.

Pergulatan dakwah yang membutuhkan interaksi diantara aktifis sering kali berpeluang untuk membuka pintu-pintu maksiat, aktifitas amal sholeh yang tidak di imbangi dengan ruh ketakwaan itulah yang terkadang membuat pergesera-pergeseran tujuan suci menjadi semakin pudar lalu kemudian luntur.

Kenapa harus cemas dengan seseatu yang telah di tentukan, tema ini begitu penting karena banyak sekali aktifis yang berguguran dijalan dakwah karena virus merah jambu yang terkenal sangat mewabah itu, akibat buah dari tidak pandainya menjaga hati sehingga begitu cemas kehilangan, kedahuluan orang lain, dan banyak sekali kecemasan-kecemasan tidak berdasar yang justru berdampak pada aktifitas dakwahnya.

Kecemasan yang berlebihan justru melahirkan kesalahan pada ranah ikhtiarnya, mereka membangun hubungan tanpa status atau biasa disebut (HTS) kenapa tanpa status??, karena memang hubungan itu dibangun tidak berdasar suatu ikatan yang suci. Sebuah hubungan yang merusak semangat, merusak hati, merusak niatan tulus, merusak kekhusyuan ibadah dan merusak keindahan cinta itu sendiri.

Sebuah bentuk pengkhianatan terhadap ALLAH Ta’ala, karena mereka membangun kemaksiatan diatas wajah kepuraan-puraan dalam ketaaatan, sebuah bentuk hubungan yang meragukan ketentuan ALLAH Ta’ala. Bertobatlah bagi saudaraku yang saat ini sedang membangun hubungan tanpa status(HTS), berilah penilaian objektif dengan hati yg bersih pada diri kalian, jikalau memang belum siap berpisahlah karena ALLAH Ta’ala. Janganlah khwatir kalau memang jodoh insya ALLAH tidak akan kemana, namun sebaliknya apabila bukan jodoh, maka hal itu tidak akan terwujud.

Sesungguhnya tidaklah kalian meninggalkan sesuatu karena Allah Azza Wa Jalla, kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dari itu”.(Sanadnya shohih menurut syarat Imam Muslim).

innallâha lâ yukhliful mî`âd “sesungguhnya Allah tidak memungkiri janjinya” Bukan sudah jelas, kenapa harus ragu???

Cerita di atas adalah sebuah bentuk bukti kekuasaan ALLAH Ta’ala. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. 30 : 21).

“dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita”. (QS.53:45)

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah”. (QS 51:49)

Semoga cerita di atas menjadi motivasi kita untuk menambah keyakinan agar senantiasa terus memperbaiki diri sampai dalam kondisi siap dan bukan hanya sekedar ingin.

Dalam sebuah kesempatan di tengah suasana ukhuwah yang mendalam sebuah teman memberikan sebuah nasehat

“Alangkah indahnya bunga ditaman warna-warni dan harum semerbak, semuanya menyita mata. tapi tahukah mana bunga yang paling indah? jangan dicari sendiri, tanyalah pada tukang kebun sang pemilik bunga.” Silahkan cermati dan renungi nasehat di atas. Petiklah dan rawatlah bunga itu dengan cara yang baik, sehingga bunga itu lebih indah dalam penjagaanmu.

wallahu ‘alam bishowab Nasehat dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang merupakan bukti tanda cinta karena ALLAH Ta’ala.. Saya persembahkan kata-kata ini, dalam rangka menunaikan amanat dan melaksanakan kewajiban… Bukankah saya sudah menyampaikan??? Ya Allah, saksikanlah!!!

tHe IoF

One thought on “Kenapa harus cemas dengan sesuatu yang sudah di tentukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s