Hilangnya orientasi kehidupan

Posted on Updated on

Suaranya lantang, kuat dan bertenaga ketika menyuarakan takbir. Aura semangat, keikhlasan dan ruhiyahnya juga ikut menjadi factor pendukung untuk menambah kekuatan semangat sahabat-sahabatnya yang lain dalam aksi tersebut. Al akh tersebut memang selalu menjadi inspirator aksi dilapangan dengan pekik takbirnya, kumpulan huruf  dan konten orasinya selalu membuat sahabat perjuangannya yang lain bertambah semangat, sungguh gambaran peribadi yang mengagumkan saat itu.

Dahulu, al akh tersebut memang memiliki masa lalu yang berbau jahiliyah. Sebuah masa dimana seolah-olah kehidupan hanya sebatas dunia, sebuah masa dimana seakan-akan yang menjadi tuhan adalah hawa nafsunya, sebuah masa dimana orientasi kehidupan hanya untuk dirinya saja tidak pernah terbayangkan beban umat untuk kemudian dia emban.

Iya, memang hidayah adalah milik ALLAH Ta’ala, kemudian dengan sekanario yang indahNya pula lah yang membuat al akh tersebut berkenalan dengan tarbiyah. Skenario perkenalan yang bukan sekedar kenal, akan tetapi sebuah perkenalan yang membuat al akh tersebut mulai menemukan jati dirinya, perkenalan yang merubah cara pandang al akh tersebut dalam memaknai kehidupan, sebuah perkenalan yang membuat al akh tersebut tersesat, akan tetapi tersesat di jalan yang benar. Bukankah semua dari kita ingin tersesat di jalan yang benar sehingga tidak bisa lagi keluar dan selalu berada dalam kebenaran??.

Obsesi hidupnya menjadi tinggi tidak sekedar hanya untuk kebaikan dirinya, bahkan cita-cita mulia dalam maratibul(urutan-urutan) amal yang di gagas oleh imam hasan al banna sudah menjadi target dalam hidupnya, dan bertekad untuk kemudian bisa berperan serta dalam mewujudkan itu.

Maratibul amal benar-benar sebuah obsesi yang menjadi salah satu tujuan hidupnya . Perbaikan diripun selalu digelorakannya setiap saat, mulai dari senantiasa meluruskan aqidahnya(salimul aqidah), kokoh akhlaknya(matinul khuluq), kuat fisiknya (qowiyyul jismi), luas wawasannya (mutsafaqul fikri), memerangi hawa nafsu(Mujahadatul Linafsihi), mampu mencari penghidupan (Qodirun Alal Kasbi), rapi dalam urusannya (Munazhzhamun fi Syuunihi), penuh perhatian akan waktunya (Harishun Ala Waqtihi), bermanfaat bagi orang lain (Nafi’un Lighoirihi).

Tidak hanya berhenti di situ, cita-cita yang lain dalam maratibul amal begitu tergambar jelas dalam peta hidupnya seperti pembentukan keluarga muslim, perbaikan masyarakat, pembebasan negeri dari kekuasaan asing, perbaikan pemerintah, penyiapan pembinaan khalifah, pelopor dunia.

Subhanallah sebuah cita-cita yang agung yang diiringi dengan konsep yang indah dan jelas. Aktifitas kesibukan terkadang memaksanya untuk mengorbankan waktu luang yang dimilikinya, bahkan kesibukannya dalam memimpin syura dan aksi terkadang juga menyita waktu kuliahnya.

Seakan-akan pada saat itu hidupnya telah di waqafkan untuk berjuang di jalan ALLAH Ta’ala. Posisinya sebagai ketua oraganisasi ekstra parlementer di kampusnya juga turut memaksanya untuk mempelajari politik, sebuah disiplin ilmu yang diluar disiplin ilmu yang dia pelajari dikampusnya. akan tetapi, semangat yang merah menyala yang membuat semua itu bisa di atasinya dengan baik.

Waktupun berjalan tanpa diminta, matahari dan bulan berputar sesuai kadarnya. Sungguh orientasi kehidupan yang telah direncanakannya mulai terkikis oleh pergulatan hidupnya yang jauh dari komunitas orang-orang sholeh.

Dunia paska kampus ternyata telah membuatnya terseret  arus oleh arus ombak yang kuat, sebuah arus ombak yang telah menghancurkan batu karang cita-citanya. Perlahan namun pasti karakter-karakter jahiliyah itu mulai timbul lagi, sungguh asayang seribu sayang seorang aktifis yang pernah berjuang yang dengan perjuangannya juga memberikan inspirasi bagi adik-adik yang dibinaannya telah berubah kembali, bayang-bayang masa lalunya kini mulai hadir menjadi realita dalam kehidupan kesehariannya.

Orientasi kehidupan yang dibangunnya mulai sirna seiring dengan makin ketidak konsistenannya dalam perbaikan diri. Ibadah yaumiahnya berkurang seiring dengan idealisme yang semakin meluntur.

Perkenalannya dengan seorang wanita yang masih terdapat unsur-unsur tabarruj(wanita yang memamerkan keindahan dan perhiasannya kepada laki-laki) yang kental membuat orientasinya untuk membangun keluarga islami semakin terkikis dan cenderung menghilang dari orientasi hidupnya. Perkenalan pun semakin mendalam sehingga melahirkan sebuah hubungan tanpa status, karena memang belum ada hubungan yang dibalut dengan ikatan yang suci diantara kedua orang tersebut.

Bahkan berkhalwat(berdua-duan) didalam sebuah ruangan yang dulunya tabu bagi si al akh, semenjak perkenalan itu menjadi hal yang biasa. Ironis memang realita yang terjadi. Lupakah al akh tersebut dengan forum liqo yang di pegangnya, betapa adik-adik binaannya akan kecewa apabila realita lapangan, ternyata tidak seperti teori yang di ucapkannya, lupakah al akh tersebut dengan semangat yang diberikannya kepada sahabat seperjuangannya dengan kata-kata yang selalu di ucapkan lewat lisannya bahwa perjuangan belum berakhir kawan, tuntaskan perubahan!!! Lupakah al akh tersebut..?? wa allahu ‘alam

barangkali itu memang benar lupa, dalam kondisi apapun berusahalah untuk selalu berkhusnuzon(berbaik sangka) Wa Allahu ‘Alam. Kisah diatas hanya sebuah sekelumit kisah dari para pejuang kehidupan. Semoga kita bisa mengambil sebuah hikmah.

Bukanlah sikap penghakiman yang diharapkan atas sebuah pilihan yang di ambil dari sikap tersebut, karena imam Hassan Al-Hudhaibi rahmahullah mengajarkan kepada kita sebuah kumpulan huruf yang menjadi mutiara hikmah Nahnu Duat La Qudhat” (Kita Pendakwah, Bukan Hakim).

Bahkan ALLAH Ta’ala saja memberikan kita pilihan untuk memilih “fa-alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa (maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.) (91:8), qad aflaha man zakkaahaa (sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,)( 91:9), waqad khaaba man dassaahaa (dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.)(91:10)”.

kemudian Allah Ta’ala tegaskan sungguh beruntung orang yang mensucikan dan merugilah orang yang mengotori. Silahkan memilih dan siaplah dengan segala konsekuensinya. Orang-orang yang menukar cinta Allah dengan makhluknya dipastikan akan menemui kekecewaan yang besar, akan tetapi orang-orang yang membungkus cinta makhluknya dengan sebuah ikatan yang indah dan suci untuk kemudian menggapai cinta ALLAH pasti akan menemuai sebuah kebahagiaan yang luar biasa.

Lihatlah disekeliling lingkungan kita boleh jadi kisah tersebut bersemayam dalam kehidupan saudara-saudara kita ingatkanlah mereka tunaikan kewajiban kita.

Kalau boleh saya meminjam untaian hikmah mas salim A fillah “belajarlah dari jiwa pendosa. Jiwa yang pernah gagal dalam ujian kehidupan dariNya. Mengapa tidak? Bukankah Al Quran juga mengisahkan orang-orang gagal dan pendosa yang berhasil melesatkan dirinya jadi pribadi paling mulia? Musa pernah membunuh orang. Yunus bahkan sempat lari dari tugas risalah yang seharusnya dia emban. Adam juga. Dia gagal dalam ujian untuk tak mendekat pada pohon yang diharamkan baginya. Tapi doa sesalnya diabadikan Al Quran. Kita membacanya penuh takjub dan khusyu’. “Rabb Pencipta kami, telah kami aniaya diri sendiri. Andai Kau tak sudi mengampuni dan menyayangi, niscaya jadilah kami termasuk mereka yang rugi-rugi.” Mereka pernah menjadi jiwa pendosa, tetapi sikap terbaik memuliakan kelanjutan sejarahnya.”

Bertobatlah sungguh Allah sangat menyenangi hamba-hambanya yang bertobat “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS Al Baqarah: 222)”.

Semoga Allah Ta’ala selalu menerangi kita dengan cahaya iman, menjaga kita dari bujuk rayu buain-buain hawa nafsu yang melenakan. Sungguh nasehat ini merupakan bukti tanda perduliku dan sebuah hikmah kehidupan bagi yang lain. Mari kita renungi perkataan seorang yang berilmu luas dan dalam yaitu Imam Ahmad ibn Hanbal dalam Kitab Az Zuhd.

“Sejak dulu kami menyepakati”, tulis beliau, “Bahwa jika seseorang menghina saudara mukminnya atas suatu dosa, dia takkan mati sampai Allah mengujinya dengan dosa yang semisal dengannya.”

Bahkan Orang yang sangat congkak dan sombong seperti fir’aunpun memohon kn taubat untuk dirinya dan mengakui kebenaran di akhir hidupnya. Apalagi seorang al akh yang memang pada dirinya pada dasarnya memang sudah ada potensi kebaikan.

Allah pasti akan memudahkannya untuk kembali menemukan cahaya iman yang dulu pernah menyala untuk kembali kembali bisa menerangi sisi dinding hatinya yang pernah gelap dan redup. Nasehat dari seorang sahabat kepada sahabatnya yang merupakan bukti tanda cinta karena ALLAH Ta’ala.. Saya persembahkan kata-kata ini, dalam rangka menunaikan amanat dan melaksanakan kewajiban… Bukankah saya sudah menyampaikan??? Ya Allah, saksikanlah!!!

tHe IoF

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s